Kamis, 29 Januari 2009

Ekonomi dan Politik Sebagai Bandul Sejarah


Desember 10, 2008

Penulisan sejarah konvensional sangat identik dengan sejarah politik. Sesungguhnya, peristiwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan kisah para raja, peperangan-peperangan atau jatuh bangun suatu pemerintahan (dinasti atau kerajaan) sebagaimana dalam sejarah konvensional. Sebaliknya sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu yang berhubungan dengan totalitas pengalaman manusia.

Sejarah dapat diartikan sebagai politik masa lalu, ekonomi masa lalu, masyarakat sosial masa lalu, atau sains masa lalu. Pendeknya, sejarah adalah segala sesuatu yang terjadi pada masa lalu.

Namun, mustahil untuk mengkaji sebuah sejarah dalam locus (ruang) dan tempus (waktu) yang begitu luas dengan menghadirkan seluruh aspek kehidupan manusia yang terjadi pada masa lalu. Penulisan sejarah hanya merekam sebagian kecil peristiwa yang dialami manusia. Karenanya, peristiwa sejarah terbagi menjadi dua : sejarah sebagai peristiwa itu sendiri (objektif) dan sejarah sebagai peristiwa yang dikisahkan oleh sejarawan (subjektif).

Bila kita telusuri tulisan-tulisan sejarah, maka kita akan menemukan tiga aspek yang menonjol dalam sejarah yaitu sosial, ekonomi dan politik. Aspek sosial dalam sejarah pasti ditemukan karena objek dan subjek sejarah adalah manusia, sejarah adalah berkenaan dengan hidup dan kehidupan manusia, perkembangan peradaban manusia. Hidup manusia tidak terlepas dari Struggle of life upaya mempertahankan hidup maka yang muncul dalam sejarah adalah aspek ekonomi, karena ekonomi memberikan peran penting bagi keberlangsungan hidup manusia.

Itu sebabnya kenapa pembahasan sejarah semisal tentang Indonesia tidak akan terlepas pada aspek ekonomi. Islam datang ke Indonesia dengan beragam teori apakah “Teori India”, Teori Persia”, Teori Arab” atau “Teori Cina” memiliki kesamaan latar yaitu mereka adalah para Saudagar Muslim. Pertumbuhan Islam berlangsung signifikan secara kuantitatif dan berhasil membangun masyarakat bermula berada di kota-kota pelabuhan sebagai lalu-lintas perdagangan.

Para Saudagar Muslim adalah Sender pembawa pesan wahyu, pesan Risalah, pesan Nabi, pesan para pemimpin Islam untuk mendakwahkan keyakinan yang dianutnya bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin. Sebagai contoh dalam Sejarah Melayu tentang kisah masuk Islamnya Raja Malaka. Raja bermimpi bahwa Nabi menampakan diri kepadanya, mengajarinya cara mengucapkan dua kalimat Syahadat, memberinya nama baru Muhammad, dan memberitahukannya bahwa pada hari berikutnya akan tiba sebuah kapal dari negeri Arab yang mengangkut seorang Ulama yang harus dipatuhinya. Setelah terjaga, raja itu mendapatinya telah di khitan secara ghaib. Kemudian kapal pun tiba, dan dari kapal itu turun Sayid Abdul Azis untuk sholat di tepi pantai. Penduduk terheran-heran dan menanyakan arti dari gerakan ritual itu. Raja memberitahu bahwa kesemuanya itu sama seperti yang ada dalam mimpinya. Sesudah itu pejabat istana mengikutinya memeluk Islam. Selanjutnya Raja itu menyandang gelar Sultan Muhammad Syah dan memerintahkan seluruh rakyatnya memeluk Islam. Sayid Abdul-Azis sendiri kemudian menjadi guru raja. Dari kisah dalam Sejarah Melayu menunjukan perjalanan perdagangan oleh Saudagar Muslim dari Arab tidak hanya semata-mata yang berdatangan dalam satu kapal itu adalah pedagang saja tetapi juga para Ulama.

Kenyataan ini yang dibantah oleh para penulis Orientalis, padahal hal yang sama dilakukan oleh Imperialisme Eropa, kedatangan Portugis ataupun Belanda dengan VOC-nya selalu menyertakan para Misionaris Kritiani dengan misi Gospel-nya.

Aspek selanjutnya yang menjadi pokok penulisan sejarah adalah aspek politik. Sejarah tidak bisa dilepaskan dari masalah politik. “History is past politics”.

Ekonomi dan politik adalah bandul sejarah. Tidak ada ekonomi dan atau politik maka tidak ada yang direkam sebagai peristiwa sejarah. Berbicara ekonomi sebagai hajat hidup manusia tidak akan terekam sebagai sejarah manakala tidak melekat pada kepentingan politik. Lalu apa yang melekatkan ekonomi dan politik sehingga terjadi peritiwa-peristiwa besar yang pada akhirnya terekam menjadi sebuah sejarah?. Hanya ada satu yaitu Ideologi. Hanya saja Ideologi menjadi “tersembunyi” atau “disembunyikan” dalam rekaman peristiwa sejarah atau Historiografi penulisan sejarah.

UTUSAN ALLAH DI BUMI NUSANTARA

Islam sebagai dien pembebasan; yaitu pembebasan dari perbudakan manusia atas manusia untuk hanya menjadi budak Allah (Hamba Allah) saja, sejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW telah mendominasi dan membebaskan bangsa arab yang sebelumnya dalam kekuasaan ideologi politik paganisme menjadi supremasi kekuasaan Islam dalam panji Negara Islam dengan pusat pemerintahan Madinatul Munawarah yang terletak di Yastrib.

Sepeninggal Rosul Muhammad SAW sebagai pemimpin tertinggi, Kekuasaan Islam dilanjutkan oleh Khulafa’ur Rasyidin sebagai Khalifatur Rosul, pengganti Rosul Muhammad yaitu Abu Bakar R.A, Umar R.A, Usman R.A, dan Ali R.A. Para Khalifah Allah ini berhasil memperluas kekuasaan sosio politik Islam di luar Jazirah Arab dan membebaskan manusia dari pengaruh peradaban syirik ajaran filsafat Yunani, mistik Neoplatonisme, ajaran Hindu, Budha, Majusi dan Syirik Kristiani yang membentang diantara wilayah Mesir, Siria, Palestina, Persia, sampai benua Eropa dalam kekuasaan Romawi.

Perintah wahyu untuk mengajak manusia meninggalkan dzulumat kedzaliman, kesesatan kepada nur cahaya Allah, cahaya Rabbaniyah telah membenam disetiap insan kamil yang telah ridho dalam kepemimpinan kekuasaan setiap pelanjut Risalah, membawanya pada misi Tauhid, misi dakwah dengan menembus ruang sekat peta bumi. Melalui jalur sutra (jalur perdagangan) yang membentang antara Jazirah Arab sampai negeri Cina melewati daratan Persia, India sampai Cina, menembus lautan sampai di kepulauan Nusantara singgah di pelabuhan-pelabuhan besar di Sumatera dan Jawa, para pengemban Amanah Dakwah senantiasa menyerukan cahaya suci Ilahiyah, mengajak setiap manusia untuk melepaskan ajaran politheisme, animisme, dinamisme, ajaran budhis atupun hindi dan mamegang ajaran Ilahi Ad-Dienul Islam.

Sejak tahun 674 M yaitu sejak pasca masa Khulafa’ur Rasyidin (632 – 661 M), di pantai Barat Sumatera sudah ada komunitas muslim yang berasal dari Negara Islam Arab. Ini berarti dakwah Islamiyah ke wilayah nusantara sudah terjadi pada masa Khulafa’ur Rasyidin . Dalam Ensiklopedi Asia I (Hal 1802) dan buku Sejarah Asia Tenggara Hal 276 Zainul Arifin dituliskan berdasar berita dari dinasti Ming II dan diniasti STIN (Chin) bahwa kerajaan Tarumanegra dan Kutai pada abad ke-7 telah mengalami kehancuran dengan kedatangan panglima perang Timur Jauh yang dipimpin oleh panglima perang yang masih muda dari Arab (Asia Barat Daya) yang diberi nama ekspedisi Islam Al Aliyin (Ekspedisi Islam ke-1).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar