Kamis, 29 Januari 2009

Sunan Ampel Pengkader Para Pejuang


Desember 13, 2008

Dewan Wali Sanga berikutnya adalah Sunan Ampel. Lahir pada tahun 1401 M, nama kecilnya adalah Raden Rahmat, beliau adalah putera dari Syekh Maulana Malik Ibrahim bapak para wali tanah Jawa dari ibu seorang puteri Raja Campa (Kamboja). Raden Rahmat melanjutkan perjuangan bapaknya dalam menegakan Islam di Tanah Jawa.onta1

Raden Rahmat seusia muda sebelum 20 tahun tinggal dengan Ibunya di Campa (Kamboja). Kedatangan Raden Rahmat ke Jawa, sebelumnya singgah dulu di Palembang selama 2 bulan saat Raden Rahmat berusia 20 tahun dan berhasil mengislamkan Arya Damar Raja di Palembang. Kemudian melanjutkan pelayaran ke Majapahit dengan singgah di Gresik sekitar tahun 1421/1422 M (jadi setelah Bapaknya Maulana Malik Ibrahim wafat) mengunjungi Syekh Jumadil Kubra.

Raden Rahmat menetap di Ampel Denta (Surabaya), menurut penuturan Babad Gresik, Raden Rahmat berhasil menjadikan daerah Ampel Denta yang semula berair dan berlumpur menjadi daerah yang makmur. Di sini beliau mendirikan pesantren, sehingga Ampel menjadi pusat dakwah Islam, sehingga Raden Rahmat digelari Sunan Ampel.

Intensitas perjuangan penegakan Islam di tanah Jawa lebih akseleratif dan terorganisir dimulai sejak kepemimpinan Sunan Ampel yaitu dengan merintis tanah Ampel Denta sebagai basis dakwah sekitar tahun 1422 M, sampai kejatuhan Kerajaan Majapahit tahun 1478 M atau sekitar 56 tahun.

Kita kadang membayangkan Sunan Ampel atau para Walisanga lainnya adalah orang yang sudah tua renta yang memiliki kesaktian yang madraguna, tetapi kalau kita telusuri secara waktu meskipun banyak perdebatan dan ketidakpastian penulisan sejarah berkenaan dengan waktu dan usia, tapi bisa dipastikan bahwa Sunan Ampel berkiprah bagi perjuangan penegakan Islam adalah seorang tokoh muda yang berprestasi. Hitungannya pendirian pesantren Ampel Denta yang didirikan setelah menikah dengan putri Tumenggung Wilwatikta pada usia sekitar 25 Tahun, ini berarti Sunan Ampel adalah da’i muda belia yang menjadi pelopor dakwah tanah Jawa.

Pesantren Ampel Denta oleh Sunan Ampel dan didaerah Giri oleh Sunan Giri adalah dua institusi pendidikan tempat pengkaderan pejuang-pejuang Islam paling penting di masa itu. Pesantren Ampel Denta Surabaya melahirkan kader Sunan Ampel diantaranya : Raden Patah (Raja Demak), Sunan Kalijaga (Menantu), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makdum (Sunan Bonang), Syarifudin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishaq (Blambangan), Dari Giri Akselerasi dakwah Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara diantaranya Sulawesi, Maluku, Ternate, Tidore.

Melalui pesantren yang terus di bina sungguh-sungguh, Sunan Ampel berhasil menelurkan orang-orang yang ahli agama dan menguasai ajaran Islam serta mempunyai dedikasi yang tinggi dalam mengamalkan dan memperjuangkan Islam.

Ada aspek strategis Ampel sebagai pusat dakwah Islam yang dikomandani oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), sebab Ampel (Surabaya saat itu) merupakan pintu gerbang utama kerajaan Majapahit. Dengan adanya pusat dakwah di Ampel sebagai pintu gerbang Majapahit, maka pengaruh dakwah Islam yang sebelumnya berasal dari Gresik (yang dirintis oleh Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim bapak-nya Sunan Ampel) menjadi lebih gencar dan menusuk jantung Ibukota Majapahit.

Perkembangan Ampel Denta sebagai suatu komunitas di Surabaya yang dihuni oleh Umat Islam pada giliranya menjadi sentra pengkaderan Islam yang paling berpengaruh di Jawa pada pertengahan abad ke-15.

Sunan Ampel telah menjadikan pusat Majapahit sebagai sasaran dakwah utama (wilayah basis target dakwah). Langkah yang ditempuhnya adalah dengan membagi wilayah inti Majapahit sesuai hirarki pembagian wilayah negara bagian saat itu kedalam beberapa wilayah yang masing-masing wilayah di koordinir oleh para kader Ampel Denta dan sahabat Sunan Ampel, diantaranya ;

1. Raden Ali Murtadho saudara tua Sunan Ampel, diberi gelar Raden Santri ditetapkan menjalankan tugas untuk memperkuat basis pertahanan Islam di daerah Gresik.

2. Raden Burereh (Abu Hurairah) ditempatkan di Majagung dengan gelar Pangeran Majagung.

3. Maulana Ishak ditempatkan di Blambangan dengan gelar Syekh Maulana Ishak.

4. Maulana Abdullah dikirim ke daerah Pajang dengan gelar Syekh Suta Maharaja.

5. Usman Haji ditentukan memasuki kerajaraan Matahun dan bertempat di Ngudung dengan gelar Pangeran Ngudung.

6. Kafilah Husen ditempatkan di Madura dan bergelar Kafilah Husen.

7. Kiyai Bah Tong (Kakek Raden Fatah) ditempatkan di wilayah Lasem dengan gelar Syekh Bentong.

8. Raden Rahmat atau Sunan Ampel sendiri mengembangkan dakwahnya di wilayah penting ibukota kerajaan di Trowulan, serta pelabuhan-pelabuhan penting Majapahit yaitu Surabaya, Canggu dan Jedong.

Program selanjutnya adalah pengiriman kader-kader dakwah ke berbagai negara bawahan Majapahit untuk gelombang ke dua dengan wilayah target dakwah sudah lebih ke arah pedalaman Jawa. Kader-kader Ampel Denta Angkatan kedua yang mayoritas dari kalangan muda, kader dakwah tersebut diantaranya :

1. Raden Hamzah (Putra Sunan Ampel yang menurut cerita tradisi Syekh Kambilah) ditempatkan di Tumapel dengan gelar Pangeran Tumapel.

2. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) di tempatkan di Daha dengan gelar Pangeran Anyakrawati.

3. Raden Mahmud (dalam cerita Babad disebut Syekh Mahmud) ditempatkan di sepanjang Kahuripan dengan gelar Pangeran Kahuripan.

4. Syekh Maulana Ishak ditempatkan di Pasuruan dan mengawini Rarasatari, putri Bupati Pasuruan yang tak lama kemudian pindah ke Pandan Arang.

5. Raden Husin (Anak Arya Damar) ditempatkan di Ibukota Majapahit.

6. Usman Haji ditempatkan di Ngudung-Matahun dengan gelar Pangeran Ngudung.

7. Syekh Suta Maharaja tetap ditempatkan di Pajang.

8. Raden Hasan (Raden Fatah) ditempatkan di Glagah Wangi Bintara, yang termasuk wilayah Lasem, untuk menggantikan kakeknya Syekh Bentong dan mendapat gelar Pangeran Bintara. Raden Hasan juga melakukan koordinasi dan memperkuat dakwah Islam di kawasan Surabaya, Canggu dan Jedong.

Berbagai halangan, rintangan dan pengalaman pahit terjadi dalam upaya dakwah di negara-negara bagian Majapahit, tetapi Sunan Ampel mampu mengkoordinasikan dengan baik dalam wadah Dewan Walisanga (Dewan Dakwah Sembilan Penjuru[1]) dan melakukan pendekatan-pendekatan dakwah yang dinamis dan fleksible.

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1478 M dengan memberikan karya besar yaitu :

1. Lahirnya basis-basis personal yang tauhidi dan bermental jihadi menjadi roh bagi perjuangan penegakan Islam menyongsong futuh Islam di Tanah Jawa.

2. Ampel Denta (Surabaya) menjadi pusat dakwah Islam di Tanah Jawa yang selanjutnya terjadi penyebaran hampir di seluruh wilayah negara bagian Majapahit.

3. Para Kader Dakwah Ampel Denta menjadi pelopor perjuangan futuh Islam di Tanah Jawa dengan menjadi koordinator-koordinator dakwah di sembilan wilayah inti kekuasaan Majapahit yaitu Trowulan (Ibu Kota Majapahit), Kahuripan, Daha, Wengker, Matahun, Pajang, Pamanahan, Wirabumi, dan Lasem. Lasem tepatnya wilayah Bintara yang dikoordinir oleh Raden Fatah alias Pangeran Bintara selanjutnya menjadi pusat penyerangan Negara Islam Demak terhadap Majapahit.

4. Sunan Ampel meninggal dunia 1478 M (tahun yang sama runtuhnya Majapahit) setelah menghantarkan berdirinya Negara Islam Demak dengan meruntuhkan kerajaan Majapahit.

Proklamasi Berdirinya Negara Islam Demak


Desember 17, 2008

Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan, Raja Brawijaya ingat akan puteranya yang tinggal di Bintara. Sabdanya kepada Adipati Terung, “ bagaimana kakakmu sudah sekian lama tidak pernah menghadap.

revolution1

Janjinya setiap tahun akan menghadap, ini sudah tiga tahun tidak datang kesini. Apakah sudah mulia, lalu lupa pada saya. Kalau begitu, pergilah ke Bintara tanyakan pada kakakmu apa sebeb tidak menghadap sang raja?”.

Adipati terung segera ke Bintara diiringi sepuluh ribu pasukan. Sesudah ketemu dengan kakaknya serta menyampaikan panggilan sang Raja. Raden Fatah menjawab,” Terima kasih sungguh sangat besar anugerah kasih sayang sang Prabu. Adapun sebab tidak sowan, adalah begitu besar pantangan agama, yang tidak mengizinkan umat Islam untuk mengabdi kepada orang kafir. Serta sudah ditakdirkan bahwa di Bintara akan berdiri kerajaan yang menjadi awal orang Jawa beragama Islam”.

Pernyataan Raden Fatah menunjukan sikap aqidah Islamiyah yang telah tertanam dalam hati sanubarinya. Keyakinan akan wajibnya menegakan perjuangan Islam dengan Pola Furqon, yaitu sikap buro’ah berlepas diri, menjauhi sampai memerangi orang-orang kafir hatta mereka beriman dan berislam.

Adipati Terung tanggap dalam hatinya, takut kembali ke Majapahit jika tidak bersama dengan kakaknya. Ia lalu menyuruh Raden Fatah segera melaksanakan niatnya. Adipati Terung akan membantu dalam peperangan. Mereka kemudian berunding bersama, umat Islam di kumpulkan lengkap beserta senjata-senjatanya di Bintara. Bupati di Madura, Arya Teja di Cirebon, Bupati di Sura Pringga serta Sunan Giri juga sudah berkumpul di Bintara dengan bala-pasukannya. Apalagi para wali dan para mukmin sudah juga sudah berkumpul. Semuanya lalu bersama berangkat ke Majapahit. Banyak barisan tak terhitung, kota Majapahit dikepung. Orang-orang Majapahit banyak takluk kepada Adipati Bintara, tak ada yang berani menyambut perang. Adipati Bintara, Adipati Terung lalu masuk ke alun-alun. Adipati Bintara duduk di dampar yang ada di pagelaran di hadapan para prajurit.

Patih Gajah Mada memberitahu Sang Prabu, kedatangan musuh dari Bintara dan sekarang Adipati Bintara berada di pagelaran. Prabu Brawijaya setelah mendengar puteranya ada di sana lalu naik ke panggung untuk melihat putranya itu. Setelah tahu bahwa putranya betul-betul ada di pagelaran, beliau gaib bersama bala-pasukan yang setia dengan rajanya.

Adipati Bintara lalu masuk ke istana. Bukan main herannya ketika tidak dijumpai seorangpun di situ. Sang Adipati menangis dalam hatinya. Ia lalu keluar istana kembali ke Bintara dengan semua pengawal dan prajuritnya. Setibanya di Bintara, Sunan Ampel Denta berkata kepada Adipati Bintara supaya menjadi raja di Majapahit yang telah menjadi warisannya.

Seperti sudah dituliskan sebelumnya Sunan Giri menjadi peletak dasar-dasar negara Islam selama 40 hari, dalam istilah Babad Tanah Jawi,”ia memantrai agar hilang bekasnya raja kafir”.

Tahun 1478 M berdirilah Negara Islam yang beribukota di Demak dan menguasai seluruh tanah Jawa dengan Rajanya Raden Fatah yang bergelar Senapati Jin Bun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sajidin Panatagama. Ki Wana Pala diangkat patih bernama Patih Mangkurat. Sementara posisi para wali menempati Majelis Syuro dan Dewan Fatwa yang diketuai oleh Sunan Giri setelah wafatnya Sunan Ampel.

Senapati adalah gelar kesatria tertinggi panglima militer, ini bisa dipahami karena negara yang dibentuk pada situasi kondisi perang dimana pemimpin negara pada masa perang dipimpin oleh Panglima Tertinggi Angkatan Perang, Jin Bun adalah nama kecil dari Raden Fatah yang merupakan keturunan putri raja dari Cina dan cucu dari Syekh Bah Tong (Syekh Bentong), Panembahan Palembang menunjukan masa kecil yang dididik oleh Arya Damar bapak tirinya Raden Fatah yang merupakan Raja di Palembang. Gelar utama pimpinan Negara Islam Demak ini adalah Ngabdur Rahman dan Sajidin Panatagama. Ngabdur Rahman menunjukan pada status di hadapan Allah bahwa beliau adalah Ibadur Rahman, dan Sajidin Panatagama menunjukan pada fungsi perannya sebagai pemelihara, pelaksana, penata Ad-Dien atau pembawa Ad-Dien artinya beliau adalah pelanjut fungsi peran Rosul sebagai pembawa Huda dan Dien.

Desember 18, 2008

Dari : http://serbasejarah.wordpress.com/2008/12/18/siapa-laksamana-cheng-ho/

———-
Dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 - 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma.

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 - 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tiong Hoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 - 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 - 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Untuk mengesankan bahwa pelayaran haji ini tidak ada hubungannya dengan keluarga istana, sengaja diutus Hung Pao sebagai pimpinan rombongan. Rombongan haji itu tidak diikuti oleh semua armada dalam rombongan ekspedisi ke-7. Rombongan haji ini berangkat dari Calleut (kuli, kota kuno) di India menuju Mekkah (Tien Fang).

Demikianlah misi perjuangan dan misi rahasia menunaikan ibadah haji yang dijalankan Cheng Ho, dan misi tersebut berhasil. Akan tetapi Cheng Ho merasa sedih karena tidak bisa bebas berlayar menuju tanah leluhurnya, Mekkah, untuk beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, pada ekspedisi ke-5, armada Cheng Ho telah berhasil mencapai pantai timur Afrika dalam waktu tiga tahun. Dalam kesempatan tersebut, armada Cheng Ho berkunjung ke kerajaan di Semenanjung Arabiah dan menunaikan panggilan Allah ke Mekkah.

Sejarah tentang perjalanan muhibah Cheng Ho, hingga saat ini masih tetap diminati oleh berbagai kalangan, baik kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya, maupun masyarakat keturunan Tionghoa. Chneg Ho telah menjadi duta pembauran negeri Tiongkok untuk Indonesia yang diutus oleh kaisar Dinasti Ming pada tahun Yong Le ke-3 (1405). Dalam tujuh kali perjalanan muhibahnya ke Indonesia, Laksamana Cheng Ho berkunjung ke Sumatera dan Pulau Jawa sebanyak enam kali.

Kunjungan pertama adalah ke Jawa, Samudera Pasai, Lamrbi (Aceh Raya), dan Palembang. Sebagian besar daerah yang pernah dikunjungi Cheng Ho menjadi pusat dagang dan dakwah, diantaranya Palembang, Aceh, Batak, Pulau Gresik, Semarang (di sekitar Gedong Batu), Surabaya, Mojokerto, Sunda Kelapa, Ancol, dan lain-lain. Gerakan dakwah pada masa itu telah mendorong kemajuan usaha perdagangan dan perekonomian di Indonesia.

Dalam perjalanan muhibahnya, setiap kali singgah di suatu daerah ia banyak menciptakan pembauran melalui bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan.

Misi muhibah yang dilakukan Cheng Ho memberikan mamfaat yang besar bagi negeri yang dikunjunginya.***

Jejak Lain Negara Islam Samudera Pasai

Desember 20, 2008

Dari : http://serbasejarah.wordpress.com/2008/12/20/jejak-lain-negara-islam-samudera-pasai/

IBNU Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas. Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota ia mendapati sebuah kota besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Kota perdagangan di pesisir itu adalah ibu kota Kerajaan Samudera Pasai. Samudera Pasai (atau Pase jika mengikuti sebutan masyarakat setempat) bukan hanya tercatat sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan Islam di Nusantara. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.

Kejayaan Samudera Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan Malikussaleh adalah salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil dan mendirikan Kerajaan Samudera pada tahun 1270 Masehi.

Ia menikah dengan Ganggang Sari, seorang putri dari kerajaan Islam Peureulak. Dari pernikahan itu, lahirlah dua putranya yang bernama Malikul Dhahir dan Malikul Mansyur. Setelah keduanya beranjak dewasa, Malikussaleh menyerahkan takhta kepada anak sulungnya Malikul Dhahir. Ia mendirikan kerajaan baru bernama Pasai. Ketika Malikussaleh mangkat, Malikul Dhahir menggabungkan kedua kerajaan itu menjadi Samudera Pasai.

Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap jemawa. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.

Dengan cermin pribadinya yang begitu rendah hati, raja yang memerintah Samudera Pasai dalam kurun waktu 1297-1326 M ini, pada batu nisannya dipahat sebuah syair dalam bahasa Arab, yang artinya, ini adalah makam yang mulia Malikul Dhahir, cahaya dunia sinar agama.

Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya, selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham.

Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai.

Impor dan ekspor

Selain sebagai pusat perdagangan, Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai.

Eratnya pengaruh Kerajaan Samudera Pasai dengan perkembangan Islam di Jawa juga terlihat dari sejarah dan latar belakang para Wali Songo. Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai.

Situs Kerajaan Islam Samudera Pasai ini sempat sangat terkenal di tahun 1980-an, sebelum konflik di Aceh semakin memanas dan menyurutkan para peziarah. Menurut Yakub, juru kunci makam Sultan Malikussaleh, nama besar sang sultan turut mengundang rasa keingintahuan para peziarah dari Malaysia, India, sampai Pakistan. “Negara-negara itu dulunya menjalin hubungan dagang dengan Pasai,” tutur Yakub.

Sejarah Pasai yang begitu panjang masih bisa ditelusuri lewat sejumlah situs makam para pendiri kerajaan dan keturunannya di makam raja-raja itu. Makam itu menjadi saksi satu-satunya karena peninggalan lain seperti istana sudah tidak ada. Makam Sultan Malikussaleh dan cucunya, Ratu Nahrisyah, adalah dua kompleks situs yang tergolong masih terawat.

Makam Sultan Malikussaleh berada di mulut pintu masuk ke cagar budaya Samudera Pasai.

Sekitar setengah kilometer dari makam itu ada lokasi yang dulunya istana Kerajaan Pasai. Sayang sekali, wujud fisik bangunan yang berada persis di bibir pantai Lhok Seumawe itu tak lagi bisa dinikmati.

Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi lahan pertambakan. Menurut Yakub, bangunan istana kesultanan sebagian besar terdiri atas kayu. Bekas-bekas fondasi dari batu bata merah masih terlihat di atas tanah tempat berdirinya kerajaan.

Di atas tanah seluas lebih dari lima hektar itu, aura kebesaran kerajaan masih sangat terasa.

Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut (44), ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai. Raja menganggap ke-44 ulama itu sebagai lawan politiknya dan memerintahkan agar mereka dibunuh. Akibat tindakannya yang sewenang-wenang, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti pelit.

Perjalanan berakhir di kompleks makam Ratu Nahrisyah. Di situs ini ada sebuah sumur tua yang menurut kepercayaan warga dasarnya berhubungan langsung dengan laut. Mereka mengatakan, pernah ada warga yang tak sengaja menjatuhkan timba ke dalam sumur itu dan menemukannya di pinggir pantai. “Sumur ini tak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun saat sumur kami sudah kelihatan dasarnya, sumur ini tetap saja penuh,” kata Azwan, warga Kampung Kuta Krueng.

Makam sang ratu dan suaminya terbuat dari marmer dengan ukiran bermotif flora. Marmer-marmer mewah berwarna coklat susu itu didatangkan khusus dari Gujarat untuk menghias tempat peristirahatan terakhir sang ratu. “Makam ini bisa dibongkar pasang, seperti lembaran papan yang bisa disusun ulang,” ucap Yakub.

Perjuangan Islam dengan Dakwah

(Fakta Empirik Dakwah Para Wali)

Suatu gerakan politik merupakan kelompok atau golongan yang ingin mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga politik atau ingin menciptakan suatu tata masyarakat yang baru sama sekali, dengan memakai cara-cara politik.

Satu daripada ciri-ciri Islam ialah bersifat “merubah.” La menolak cara menempel atau memperbaiki. Ia tidak rela dengan penyelesaian separuh-separuh atau sesuku-sesuku, atau ia tidak ingin mengharuskan hidup bersama jahiliah.
Dakwah berdaya politik bisa dipahami secara sederhana sebagai sebuah gerakan perubahan masyarakat dari keadaan syirik dan jahiliyah menjadi masyarakat Tauhid dan Islam.

Manhaj Rasulullah saw. dalam menghadapi jahiliah adalah bersifat ‘taghyir’ (merubah). Tatkala orang-orang Quraisy menemuinya untuk berkompromi supaya Rasulullah menyembah tuhan mereka selama sebulan dan sebagai balasan mereka akan menyembah tuhan Muhammad pula selama sebulan yang lain, Al-Quran secara tegas menurunkan ayat:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Qs. Al-Kafirun; 109 : 1-6)

Perubahan dalam Islam sebetulnya simpel tak tidak berbelit-belit. Cara pandang perubahan Islam secara ringkas terungkap dalam kata-kata Rubi’e bin ‘Amir kepada Rustam, ketua angkatan bersenjata Parsi, ketika ditanya sebab berperangnya orang-orang Islam, maka dijawab:

“Allah mendatangkan kami bagi mengeluarkan hamba-hamba (manusia-manusia) dari menjadi hamba kepada hamba (manusia) supaya menjadi hamba kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dari kesempitan dunia kepada dunia yang lebih luas. Dari kezaliman beragama kepada keadilan Islam. Maka kami diutus dengan agama Allah kepada mahluk Nya untuk menyeru mereka kepada Allah. Maka barangsiapa yang menerima, kami menerima mereka dan tinggalah mereka di tanah air mereka dan siapapun yang enggan kami perangi sehinggalah kamu menerima seruan Allah yang dijanjikan (dengan ikrar).”

Perubahan Islam adalah pembebasan perbudakan manusia atas manusia menjadi hanya menjadi budak, hamba Allah. Pembebasan ini dalam al-Qur’an sebuah jalan yang mendaki lagi sukar.
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,” (Qs. Al-Balad, 90 : 12-13)

Jalan yang mendaki, bila diibaratkan puncak gunung sebagai tujuan perjalanan maka kita harus melangkah tahap demi tahap meniti jalan yang terus meninggi. Pembebasan perbudakan manusia atas manusia dilakukan secara gradual/bertahap dari proses dakwah secara personal melahirkan personality yang tauhidi selanjutnya bertahap pada pembentukan keluarga yang tauhidi sebagai baiti jannati, selanjutnya bertahap pada pembentukan masyarakat islam dalam skup qoryah thoyyibah (pedukuhan, perkampungan, atau perkotaan yang tauhidi), selanjutnya baldah toyyibah warobbun ghofur dan puncak gunung itu adalah Khalifah fil Ardi. Jalan yang mendaki lagi sukar, menunjukan bahwa setiap tahap yang ditempuh tentu memiliki halangan, hambatan, dan rintangan yang bermacam-macam sesuai tingkatnya.

Ciri-ciri Perubahan Islam
Perubahan Islam mempunyai ciri-ciri aqidah dan akhlak yang berbeda dari aliran-aliran perubahan lain di dunia. Tidak pernah mereka yang telah menghirup dan mengecapi Islam, kemudian enggan dan menolaknya, kerana Islam mempunyai keunggulannya yang tersendiri dalam konsep pemikiran, ‘manhaj’ haraki dan ‘uslub’ perubahan. Antara ciri-cirinya:

A) Perubahan Menyeluruh
Perubahan Islam bukan setangkai perubahan suatu sudut dari sudut-sudut kehidupan manusia, baik di segi sosial, ekonomi, politik atau aqidah, tetapi dari segi tabiatnya. Islam itu adalah merupakan manhaj yang menyeluruh (kulli dan syamil). Ini menjadikan ‘perubahan Islam’ itu unik dari segi manhaj dan uslub (method dan cara).

Oleh kerana itu perubahan Islam tidak mungkin tercapai dengan cara rekaan semata-mata, apalagi secara ‘irtijali’ yakni tanpa program, dan tidak juga dengan cara ketenteraan untuk mendapatkan kuasa secepat kilat. Sebaliknya, perubahan Islam itu mestilah dengan mempersiapkan faktor-faktor dan sendi-sendi yang membolehkan terbangunnya masyarakat di atas asas-asas itu.

B) Perubahan aqidah (ideological)
Aqidah Islamiah menentukan tabiat dan manhaj perubahan. Maka garis yang Aqidah Islamiah menentukan tabiat dan manhaj perubahan. Maka garis yang membataskan polisi perubahan itu berkisar dan berpusat kepada dua tonggak asasi:-

1) Betul tujuan/matlamat yang ingin dicapainya; betul dalam method atau manhaj perubahannya. Inilah yang menjadikannya menolak nilai/kriteria perubahan secara parti, politik dan ketenteraan.

2) Betul wasilah dan terjamin tepatnya dari segi syara’ serta bersesuaian dengan ruh Islam, sebagaimana terpeliharanya juga perubahan Islam itu dari melanggar kaedah kaedah syara’.

Islam melihat perubahan itu bukan saja dari segi tujuan tetapi juga dari segi wasilah (jalan) bagi menegakkan perintah Allah dan melaksanakan hukuman-Nya. Apabila perubahan itu tidak mencapai tujuan, ianya boleh membawa akibat buruk kepada Islam itu sendiri.

C) Perubahan Berperikemanusiaan
Artinya, ia tidak akan menuju kepada kebaikan dengan melalui jalan keburukan, dan menghirup kehinaan untuk sampai ke mercu kebahagiaan. Atau ia tidak membina bangunan di atas tengkorak dan darah. Walaupun Tacashoft, seorang pemimpin agung Komunis telah memberikan perintah untuk menghapuskan semua orang-orang Rusia yang melewati usia dua puluh lima tahun karena mereka tidak mau mewakili pemikiran Marx, namun Islam menunjukkan sifat-sifat rahmat dan berperikemanusiaan dalam banyak peristiwa dan kejadian.

Pada hari futuh Mekah, Abu Bakar As-Siddiq ra. telah menemui bapanya yang mana pada masa itu masih lagi seorang musyrik dan dibawanya kepada Rasulullah saw. Tatkala Rasulullah saw melihat, beliau lalu berkata kepada Abu Bakar, “Kenapa tidak orang tua ini sahaja yang di rumahnya dan aku sendiri datang menemuinya.” Berkata Abu Bakar: “Wahai Rasulullah, dia lebih patut menemui engkau dari engkau menemuinya.” Maka Rasulullah pun duduk di hadapannya dan menyapu ke atas dadanya lalu berkata, Islamlah anda, maka beliau pun memeluk agama Islam. Di sini jelas bahawa perubahan Islam itu ada mempunyai ciri-ciri berperikemanusiaan; tabiatnya berakhlak dan akidah Islamiah ialah wasilah serta matlamatnya.

Dakwah dan Perubahan
Sayyid Qutb memberikan penjelasan tentang ciri Islam sebagai gerakan perubahan atau pembebasan. Beliau menyatakan : “Inti Islam itu adalah gerakan pembebasan. Mulai dari hati nurani orang-perseorang dan berakhir di samudera kelompok manusia. Islam tidak pernah menghidupkan sebuah hati, kemudian hati itu dibiarkannya menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan di atas permukaan bumi, selain daripada kekuasaan Tuhan Yang Satu dan Maha Perkasa. Islam tidak pernah membangkitkan sebuah hati, lalu dibiarkannya hati itu sabar tidak bergerak dalam menghadapi keaniayaan dalam segala macam bentuknya, baik keaniayaan ini terjadi terhadap dirinya, atau terjadi terhadap sekelompok manusia di bahagian dunia manapun saja, dan di bawah penguasa manapun juga”.

Islam memanggil pancaindra, menggugah aqal dan qolbu. Wahyu mendorong dlamir dan iradah (kemauan) yang mampu mengendalikan nafsu. Di bawah sinaran wahyu segala unsur-unsur fitrah manusia dengan fungsinya masing-masing dalam proporsi (ukuran-ukuran) yang seimbang; semuanya merupakan satu kesatuan yang harmonis.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. (Qs. Al-Anfal , 8 : 24)

Disinilah tugas para juru dakwah atau da’i. Para juru dakwah bertugas mempertemukan fitrah manusia dengan wahyu Ilahy, berdasarkan keterangan yang nyata-nyata tanpa pemaksaan. Fitrah adalah ciptaan Ilahi, sebagaimana wahyu adalah tuntunan Ilahy guna keselamatan, dan kemajuan pertumbuhan fitrah manusia. Kekuatan dakwah seorang da’i tergantung kepada kekuatan hujjahnya, yang diterima oeh aqal yang sehat, dan daya panggilnya, yang dapat menjemput jiwa dan rasa. Dalam makna ini maka dakwah adalah Tilawah atau Tarbiyah, Tazkiyah, dan Ta’lim.

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Qs. Al-Jumu’ah, 62 : 2)

Sebuah tatanan hidup atau pola hidup masyarakat yang benar-benar dalam kesesatan yang nyata, di akal, jiwa dan tingkah laku secara revolusioner berubah menjadi sebuah generasi yang dihuni oleh kesatuan masyarakat yang memiliki pola pikir, pola sikap dan tindak Qur’ani.

Dakwah Para Wali; Fakta Empirik Sebuah Perubahan
Lebih dari 5 abad yang silam telah terjadi sejarah perubahan yang monumental dalam tatanan masyarakat di tanah air tercinta Indonesia. Perubahan yang dikomandani oleh para wali utusan Allah di tanah Jawa, para wali “sang pembebas” perbudakan manusia atas manusia untuk “dikembalikan” kepada Sang Maha Pencipta menjadi status yang legitimit dimana manusia hanya sah dan haq menjadi Hamba Allah, menjadi budaknya Allah, menjadi Rakyat Allah Al-Malikul Haqqul Mubin.

Apa yang dikatakan oleh Raden Al-Fatah yang menjadi sebab menolak untuk mentaati raja Majapahit, …. “begitu besar pantangan agama, yang tidak mengizinkan umat Islam untuk mengabdi kepada orang kafir. Serta sudah ditakdirkan bahwa di Bintara akan berdiri kerajaan yang menjadi awal orang Jawa beragama Islam”. Kiranya sebuah refresentasi dari sebuah keyakinan yang bersifat bukan hanya personal tapi institusional untuk Haram mengabdi kepada orang kafir, karena pengabdian yang sesungguhnya hanyalah kepada Al-Malikul Haqqul Mubin.

Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Qs. Al-Mumtahanah, 60 : 4)

“Pembangkangan”, “Pengingkaran” atau “Pemberontakan” terhadap pengabdian manusia atas manusia tentu bukan tanpa resiko “Walao karihal Kafirun”, Walao karihal Musyrikun” tapi sing penting “Wakafa Billahi Syahida”. Perjuangan para da’i bukan untuk tebar pesona, mencari popularitas, atau sebatas selebritis yang dipenuhi kata puitis.

Sunan Muria sering berpesan kepada kadernya “ Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran Kang Murbeng Jagad” bahwa perubahan keadaan itu atas kehendak Allah Sang Penguasa Jagad Raya. Sementara Sunan Giri berpesan pada santrinya “ Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah” keadaan yang ada ini tidak lama pasti mengalami perubahan, oleh karena itu jangan melupakan sesama hidup.

Lalu perubahan-perubahan apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia. Dalam pupuh pungkur Sunan Kalijaga berpesan “ Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bakat mikat reh mangukut, kukutaning jiwangga, kang mangkono kena ingaran wong sepuh, lirih sepuh sepi hawa, awas roroning atunggal. Orang siapa mendapat wahyu Allah, akan berkilau cemerlang dalam celah ilmu ma’rifat, menguasai masalah tapa brata, mengendapkan jiwa-raga, itulah yang dinamakan orang sepuh. Sepuh adalah sepi hawa nafsu, waspada anasir dwitunggal. Nyata bahwa perubahan yang dimaksud adalah setiap insan wajib untuk “merasuki diri” dengan wahyu Ilahi, hanya dengan wahyu Allah manusia akan sepi dari hawa nafsu. Tegasnya wahyu Allah akan menuntun manusia untuk hidup saka karsaning Pangeran Kang Murbeng Jagad, atas kehendak Allah saja.

Perubahan pada diri, hakekatnya bukan hanya untuk memberikan keselamatan pada diri saja akan tetapi wajib menyelamatkan bagi orang lain. Apa yang diajarkan oleh Sunan Drajat kiranya menjadi bahan renungan untuk memberikan keselamatan pada umat. Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marana kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kadonan. Artinya berikan tongkat kepada yang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan. Tegasnya ‘allamal insan ma lam ya’lam. Sampaikan apa yang belum diketahuinya, berikan sesuai kebutuhannya.



Dari : http://serbasejarah.wordpress.com/2009/01/14/perjuangan-islam-dengan-dakwah/

Dari Cirebon ke Banten : Langkah Dakwah Sunan Gunung Jati


Dari : http://serbasejarah.wordpress.com/2009/01/04/dari-cirebon-ke-banten-langkah-dakwah-sunan-gunung-jati/
Januari 4, 2009

Putera Sri Baduga Maharaja Raja Padjadjaran (Sunda-Galuh) yaitu Sang Surasowan di angkat menjadi raja di daerah (bupati) Banten pesisir yang berkuasa atas pelabuhan perdagangan yang ramai. Sang Surasowan memiliki 2 anak yaitu Sang Arya Surajaya dan Nyi Kawunganten.

Pada masa pemerintahnnya, dakwah Islam berkembang yang mulai dikembangkan oleh seorang ulama muda dari Cirebon; Syekh Syarif Hidayatulloh. Sang Surasowan sangat toleran terhadap perkembangan Islam di daerahnya. Bahkan ketika Syekh Syarif Hidayatullah melamar puterinya Nyi Kawunganten, Sang Surasowan menerimanya dengan senang hati. Apalagi ia mengetahui, bahwa Syekh Syarif Hidayatullah adalah putera Rara Santang saudara seayahnya.

Dari pernikahan Nyi Kawunganten dengan Syekh Syarif Hidayatulloh, Sang Surasowan mempunyai cucu yang lahir pada tahun 1478 M. oleh Ayahnya diberi nama Hasanudin, sedangkan oleh kakeknya diberi gelar Pangeran Sebakingkin.

Ketika Sang Surasowan meninggal tahtanya diwariskan kepada puteranya Sang Arya Surajaya. Pada masa pemerintahan Arya Surajaya, Syekh Syarif Hidayatulloh sudah kembali ke Cirebon menjadi Susuhunan Jati.

Pangeran Sebakingkin melanjutkan misi dakwah ayahnya, mendirikan pesantren, yang selanjutnya lebih dikenal dengan Syekh Hasanudin. Ketenaran Syekh Hasanudin telah mengalahkan kharisma uwa-nya Arya Surajaya, sehingga hubungan dengan uwanya itu tidak harmonis. Syekh Hasanudin sering mengunjungi ayahnya di Cirebon untuk bersilaturahmi dan bertukar informasi.

Suatu ketika, Syekh Hasanudin sedang berada di Banten Pesisir, Syekh menerima informasi dari kurir ayahnya, bahwa pasukan gabungan Cirebon-Demak yang dipimpin Panglima Fadillah Khan sedang berlayar, ditugaskan untuk merebut Banten Pesisir.

Sebelum armada laut Cirebon-Demak tiba, Syekh Hasanudin mengerahkan santri-santrinya, mengadakan huru-hara terselubung di berbagai tempat. Sang Arya Surajaya mengerahkan pasukan untuk menumpas “pasukan misterius” yang tidak dapat dilacak identitasnya. “Gerilyawan” santri-santri Syekh Hasanudin, sempat membinasakan puluhan pasukan Sang Arya Surajaya.

Ketika Sang Arya Surajaya dan pasukannya disibukan oleh “pasukan gerilyawan misterius”, serangan mendadak pasukan gabungan Cirebon-Demak, secepat kilat membinasakan dan menduduki keraton Banten Pesisir.

Setelah Banten Pesisir berhasil direbut oleh Panglima Fadillah Khan dan pasukannya, pada saat itu juga , Syekh Hasanudin diangkat menjadi Bupati Banten Pesisir, pada usia 48 tahun.

Ketika Pangeran Hasanudin menjadi Bupati Banten Pesisir, wilayah Banten Girang yang mendukung “gerakan huru-hara” menggabungkan diri dengan Banten Pesisir. Maka Pangeran Hasanudin menjadi penguasa Banten Pesisir dan Banten Girang, dan hampir semua penduduk beralih keyakinan menjadi Islam. Ia dinobatkan menjadi Panembahan Hasanudin. Nama resmi kerajaan Islam di Banten ini adalah Negeri Surasowan (mengambil nama kakeknya yang menyayanginya)

Dari Cirebon Ke Sumedanglarang

Kerajaan Sumedanglarang didirikan oleh Praburesi Tajimalela, berkedudukan di Gunung Tembong Agung antara tahun 1340 – 1350.

Dakwah Islam di Sumedanglarang dilakukan oleh Maulana Muhammad (Pangeran Palakaran), putera Maulana Abdurahman (Pangeran Pananjung) atau cucu dari Syekh Datuk Kahfi perintis dakwah di Cirebon. Perkiraan mulai dakwah Pangeran Palakaran sejak masa awal Negara Islam Cirebon berdiri, ini dilihat dari telah menetapnya Pangeran Palakaran di Sumedanglarang sekitar tahun 1500-an. Dimungkinkan Pangeran Palakaran ditugaskan oleh Sunan Gunung Jati untuk berdakwah di wilayah ini.

Pada tahun 1504 M, Pangeran Palakaran menikah dengan seorang puteri Sindangkasih. Dari perkawinan tersebut lahir Ki Gedeng Sumedang atau dikenal dengan Pangeran Santri pada tahun 1505 M. Duapuluhlima tahun kemudian tepatnya 1530 M, Pangeran Santri berjodoh dengan Ratu Satyasih penguasa Sumedanglarang saat itu.

Pangeran Santri kemudian dinobatkan sebagai penguasa Sumedanglarang pada tahun 1530 M, ia menjadi penguasa Sumedanglarang berkedudukan sebagai bawahan Negara Islam Cirebon. Wilayah kekuasaan Sumedanglarang meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Bandung.

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Dari : http://www.ummah.net

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

(Bersambung)